Oleh: Radumta Sitepu | Oktober 11, 2008

Ciptakan Komunitas Pendukung Kesuksesanmu

Tentu ada banyak alasan mengapa seseorang bergabung dengan suatu komunitas. Kita membedakannya ke dalam empat hal tulis Om Rhenald Khasali dalam bukunya yang berjudul River Company. Antara lain :

I.Hobby

Ini kita sebut sebagai community of hobbies. Misalnya, bertanam, memelihara anjing roofwheler, burung berkicau dan lain sebagainya.

2. Profesi

Kita sebut komunitas ini sebagai community of expert (profesional). Di sinilah berkumpulnya orang-orang satu profesi apakah itu ekonom, dokter, konsultan, manajer atapun kepala rumah sakit, dan lain sebagainya.

3. Kesenangan

Ini kita sebut sebagai community of fun. Misalnya, mereka yang bergabung di Harley Davidson Club. Mereka bergabung karena karakter komunitas ini adalah fun.

4. Community of Problem

Ini adalah komunitas tempat orang berkumpul karena memiliki masalah yang sama. Mengapa orang-orang yang keluarganya (ayah, ibu, anak) yang menderita penyakit tertentu saling bertemu? Karena mereka punya masalah dan empati yang sama, yaitu ingin mengurangi beban penderitaan orang yang mereka cintai. Termasuk juga dalam kategori ini yaitu cancer society atau autism society.

Oleh: Radumta Sitepu | Oktober 11, 2008

Membangun Karakter Itu Tidaklah Sulit

Sesungguhnya membangun karakter diri tidaklah sulit. Karena itu datanganya dari kebiasaan. Dan kebiasaan tesebut menurut sebuah penelitian yang pernah dilakukan mengatakan bahwa dari kehidupan kita sehari-harinya : dari sejak kita bangun sampai kita tidar kembali, 90% yang kita lakukan adalah membentuk perilaku kebiasaan.

Itu artinya bagaimana kita memeperlakukan orang-orang, bagaimana kita menggunakan uang kita, apa yang kita tonton, apa yang kita lakukan setiap harinya, membentuk kebiasaan kita secara otomatis. Dimana terjadinya kebiasaan tersebut nampak hampir terjadi secara sukarela dengan kata lain kita melakukannya tanpa harus memikirkannya, bahkan bisa saja terjadi tanpa kita menyadarinya sedikitpun.

Hal tersebutlah yang terjadi secara berulang-ulang setiap harinya, setiap jamnya, bahkan hampir setiap menitnya, yang lambat laun membentuk karakter diri. Dimana karakter diri yang terpuji terbentuk dari kebiasaan positif dan sebaliknya karakter diri yang tercela berasal dari kebiasaan-kebiasaan negatif yang sering kita aplikasikan setiap harinya.

Kebiasaan positif dan negatis memang seperti lazimnya berakar dari lingkungan sekitar, serta kebudayaan setempat dimana kita tinggal dan dibesarkan. Hal yang memiliki pengaruh yang cukup besar sebagai faktor pendukung tumbuh dan berkembangnya kebiasaan positif dan negatif baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jelas bahwa jika kita bertumbuh di rumah maupun di lingkunga, dimana orang-orang tidak teratur, tidak rapi, atau terus menerus terlambat, maka, kita secara langusung telah membentuk beberapa kebiasaan negatif yang sama juga. Bahkan jika kita dibesarkan di sekitar orang-orang yang cenderung bersikap keras, sarkastis atau kasar, kita mungkin telah mengadopsi perilaku yang sama.

Dimana kita mungkin bahkan tidak menyadari bahwa sikap dan perilaku seperti itu sifatnya berbahaya. Tapi karena itulah yang pernah kita ketahui, bahkan karena kita menganggapnya sebuah kebiasaan yang positif, maka secara tidak langsung hal ini telah membentuk karakter diri yang tercela.

Di pihak lain, jika kita bertumbuh di sekitar orang-orang yang memiliki kebiasaan positif, seperti kerapian, kesalehan, kesopansantunan, dan keramahtamahan, serta kita dididik membangun kebiasan pola yang positif, seperti olah raga teratur, makan teratur, bangun dan tidur secara teratur sehingga membuat tubuh kita istirahat dan segar kembali. Ini adalah kebiasaan positif yang secara langsung membentuk karakter diri yang terpuji.

Oleh: Radumta Sitepu | Oktober 11, 2008

Kekuatan Sebuah Cita-Cita

“Banyak orang akan terkejut ketika mengetahui alasana mengapa mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup. Yaitu, karena cita-ctia yang anda miliki terlalu kecil, terlalu kabur dan tidak memiliki kekuatan sedikitpun,” kata Steve Chandler dalam bukunya 100 Ways To Motivati Yourself. “Sehingga membuat daya khayal anda tidak bergairah sedikitpun,” tambahnya lagi.

Sudah tepatnya memang, bagiaman mungkin cita-cita yang anda miliki bisa tercapai jika tidak menggairahkan daya khayal sekaligus juga menggairahkan kehidupan anda?

Semestinya, kita sebagai mahasiswa perlu menggairahkan daya khayal tersebut dengan menetapkan sebuah cita-cita yang berkekuatan besar. Karena sebuah cita-cita yang berkuatan besarlah akan menghadapi suatu realitas yang besar juga. Ia akan hidup dan bernafas. Ia menyediakan energi. Ia membangunkan anda di pagi hari. Anda dapat merasakan  dan menciumnya sekaligus juga telah menggambarkannya  dengan jelas dalam pikiran anda, sehingga daya khyal tersebut bergairah dan selalu menyala-nyala di dalam benak anda.

Oleh: Radumta Sitepu | Oktober 11, 2008

Seminar Sehari Bertemakan Harapan Para Pengangguran

Kisah ini terjadi dimasa lampau, kira-kira satu tahun yang lalu, di mana ribuan penganggur, berkumpul di suatu ruangan yang luas. Tepatnya di sebuah ruang seminar di salah satu hotel terkenal di kota ini. Ya, inilah seminar yang telah lama dinanti-nantikan oleh setiap peserta yang penggangguran tadi. Meskipun harga tiket masuk yang cukup mahal, tidak menyurutkan langkah para pengangguran yang sudah frustasi ini untuk bisa mengikuti seminar tersebut. Yang memang dibawakan oleh seorang Pakar Psikologi yang cukup terkenal di negeri ini.

Memang patut diakui dia adalah sosok pembicara ulung yang mempunyai talenta lebih dari pembicara lainnya. Selain teorinya simpel sehingga gampang dipahami, seminar yang diadakannya ini pun didukung dengan perangkat berteknologi mutakhir. Membuat setiap seminar yang diadakannya tidak pernah sepi dari peserta.

Waktu yang dinantikan pun telah tiba. Acara pun dimulai dengan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Setelah selesai pemandu acara pun memanggilkan sang pembicara untuk naik ke pentas. Dan sang pembicara pun langsung mengambil alih pembicaraan.

“Hari ini anda datang ke tempat ini dari latar belakang yang berbeda-beda, saya yakin hanya untuk satu tujuan. Benar bukan?” kata sang pakar tersebut memulai pembicaraan.

“Benar,” jawab peserta dengan wajah girang.

“Hari ini anda datang ke tempat ini, juga untuk mengetahui jawaban bahwa kenapa saat ini “saya masih pengangguran, ya? Benar bukan?” tanyanya sekali lagi. Pertanyaan yang kembali membuat ruangan tersebut bergetar dari saura peserta yang menjawab “benar”.

Lalu, sambil menangis meskipun mungkin hanya ber-akting saja tapi seakan nampak betulan, sang pembicara pun dengan lirih mengatakan demikian,

“Kenapa Tuhan, sampai saat ini saya masih pengangguran seperti yang kualami sekarang. Padahal dulu waktu lulus kuliah, saya berhasil meraih IP Cum Laude dan itu juga dalam jangka 3,5 tahun tidak seperti kawan-kawan yang meskipun tamat sampai lima tahun dengan IP pas-pas-an. Tapi kenapa sampai saat  ini saya begitu susah sekali mendapatkan pekerjaan yang telah lama saya nantikan, kenapa Tuhan…kenapa?”

“Ada yang tahu?” kemudian sang pakar pun bertanya kepada para peserta seminar. Tapi, tidak seorangpun dari mereka yang mampu menjawab. Mereka hanya diam tertunduk dengan kesedihan yang telah meliputi jiwa mereka. Mereka terhanyut dengan suasana yang dibawakan pembicara tersebut. Dan mencoba membayangkan perjuangan mereka selama ini yang belum membuahkan hasil sama sekali.

Oleh: Radumta Sitepu | Oktober 9, 2008

Arti Pentingnya Sebuah Citra Diri di Kalangan Para Mahasiswa

Apa jadinya para mahasiswa yang memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang tinggi tetapi tidak memiliki citra diri yang berkarakter terpuji?

Adalah sebuah pertanyaan yang pantas dilontar bagi para mahasiswa saat ini. Dan jawabannya mungkin adalah maka tidak dapat diragukan lagi bahwa kehidupan mahasiswa yang begini di era globalisasi seperti saat ini hanyalah sekedar mahasiswa yang bisa diperjualbelikan dimana harga dari pengetahuan yang dimilikinya tersebut bisa dipermain-mainkan dengan sesuka hati oleh siapun.

Mungkin hal inilah yang ingini ditunjukkan oleh Antonis Scalia dari ungkapan perkataan di bawah ini :

“Bear in mind that brains and learning, like mucle, and physycal skills, are articles of commerce. They are bought dan sold. You can hire them by the year or by the hour. The only thing in the world  Not For Sale is Character. And if that does not govern and dicect your brains and learning. They will do you and the world more harm than good”.

Memang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa nilai atau pentingnya citra diri atau karakter terpuji tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mahasiswa saat ini. Karena karakter tersebutlah yang tidak bisa dibeli dari dalam diri seseorang. Karena tanpa karakter ataupun citra diri yang kuat tersebut kita bukanlah siapa-siapa, kita hanyalah seonggokan rangka kering yang berjalan tanpa jiwa.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk membangun citra diri yang kuat tersebut. Dimana kelak hal tersebut menjadi sebuah indentitas yang menonjol di dalam diri kita yang membuat kita berbeda dengan individu-individu lainnya.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori