Oleh: Radumta Sitepu | Agustus 31, 2008

Dosenku Cantik

Selain senyuman manis yang mampu menggetarkan dunia dan seluruh isinya, memiliki dua bola mata yang cukup jeli dan tanggap adalah pujian yang sering dilontarkan gadis-gadis di kampus kepadaku, diantara pujian-pujian lainnya. Pujian yang melambungkan aku “tinggi ke awan-awan”, membuat sikapku, menuntun penampilanku untuk tampil beda dan semenarik mungkin, tentunya supaya para cewek di kampus terkesima akan tampang wahku yang cukup menggoda.

Tapi aku kadang harus pening juga dengan kedua mata yang cukup jeli ini, ternyata susah juga untuk diajak kompromi. Tidak hanya haus mengulik paras imut-ayu serba baru, harus kuakui juga ke dua bola mata ini susah bangat untuk terbuka, saat jam berdiri tegang dan tegap di atas dinding. Susahnya minta ampun untuk bisa bangun pagi.

Kejadian yang cukup menyebalkan setiap harinya, seperti pagi yang cerah ini, aku harus terlambat masuk kelas karena bangun kesiangan. Untungnya sampai di kampus, kelas dimulai baru lima menit berlalu. Entah siapa dosen yang mengajar belum kutahu pasti seperti apa rautnya. Hanya sesampai di depan pintu, kutaruh jari telunjuk di bibirku, sebagai bahasa isyarat. Akupun menyusup masuk dengan perlahan-lahan dengan kaki dijinjit, untungnya di depan masih tersisa dua bangku kosong dan dosen yang mengajar pun sedang sibuk-sibuknya menulis bahan kuliah hari ini. Kuhempaskan pantatku perlahan-lahan.

“Syukur Alahamdullillah…Aku gak ketahuan” pikirku cemas sambil mengeluarkan buku dari tas kuliahku, akupun mulai mencatat nama dosen yang terpampang jelas di white board. “Oh…Bu Tiur namanya?” ucapku pelan.

***

Dua menit telah berlalu, tanpa sedikit pun bu dosen acuh dengan hadirku. Sebenarnya aku mengharapkan bu dosen untuk segera berpaling. Lalu tiba-tiba saja si Indra menyelutuk kuat.

“Woi si anak kampung dah datang euy…!!!” pekik Indra girang dengan suara menggelegar keras bak petir di siang bolong, seakan sigap menyambar dan membelah bumi, begitu si Jaultop tiba di ambang pintu, berniat masuk dengan menyusup seperti yang kulakukan tadi, tanpa harus mengetuk pintu dan permisi masuk dari Bu Dosen.

Teriakan yang cukup hebat, membuat seisi ruangan tersentak, terkejut kaget, tak terkecuali Ibu Tiur, dosen muda dari fakultas lain, yang hari ini masuk di kelas kami, yang dari tadi asyik “bermain-main” dengan spidol yang terjepit erat di kedua jari tangannya. Tidak jelas bagaimana ekspresi wajahnya mendengar suara “guruh” tadi. Karena tubuhnya yang mungil dan langsing semampai itu masih menghadap white board yang terpampang besar di hadapannya. Hanya, sejurus kemudian terdengar bunyi irama yang tidak asing lagi di telingaku, bisa kupastikan dosenku ini dulunya pasti pernah ikut pramuka.

“Trap…trap…tak…” bunyi hentakan sepatu haknya yang hitam cemerlang memecah keheningan. Seakan mengikuti aba-aba “balik kanan grak…” dari pimpinan upacara waktu SMA dulu. Bu Tiur membalikkan badannya.

“Siapa…itu tadi?” ucapnya lantang dan tegas, dengan mata membelalak tajam, menoleh ke seluruh penjuru ruangan.

“Indra Bu…!!!” bersenandung lirih paduan suara anak-anak serempak dan kompak, dengan nada yang komplit, tak ketinggalan si Jaultop pun ikut menyeringai. HaHa…Hanya saja, bisa kupastikan suara tersebut terdengung dari mulut 33 orang kawan-kawanku.

Lha…dimana dua lagi suara emas khas yang selalu bersenandung cerdas?”

Hihi…Yang pastinya Indra tidak akan angkat bicara untuk mengatakan bahwa itu adalah perbuatannya. Dan satu orang lagi yang tak menyahut itu adalah aku yang tidak mengacuhkan perkataannya.

***

Sejak berbalik tadi, aku hanya bisa terkesiap menahan detakan jantung yang berdebar cepat. Mataku langsung terpana memandang kecantikan parasnya untu pertama kalinya. Hidung mancung dan simpul bibir yang cukup seksi memberi nuansa tersendiri dengan bentuk wajah oval berpalungkan dagu misterius, membuatku terkesima.

Alis lebat dengan bulu mata lentik menggoda, tak mampu menaklukkan keperkasaan dua bola mata bundar melotot tajam hendak menerkam mangsa, menjadi nilai plus keanggunannya. Dan itu semakin indah dengan paras merah merona, menahan emosi karena kelakar renyah si Indra tadi.

“Wow…” decak kagum yang tertahan di kerongkongan ketika mataku mulai menikmati pemandangan indah akan lehernya yang jenjang.

“Sebentar lagi, tinggal 1 cm, tinggal 1 cm lagi aku akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa…” pikirku girang hendak menelusup lebih rendah lagi, lagi dan…

“Hei…kamu !!! Apa yang kamu perhatikan?” suara tegas yang membuyarkan lamunku dengan mata terbelalak fokus satu titik dari tadi. Aku terkejut kalut, darah mengalir cepat, membuat jantung tak lagi bekerja normal, membuatku terperangah seketika.

“Anu, anu…Ibu?” sahutku terbata-bata hendak berterus terang.

“Apa…?” sergapnya langsung.

“Anu Bu…eh maaf Bu, dari tadi aku melamun Bu. Membayangkan gerakan indah serta ujuran lancar presenter Choky Sitohang, yang sangat memukau itu lho. Aduh…heubatnya. Aku ingin sekali seperti dia” mataku menggeliat kilat, cepat merayap ke langit-langit, seakan membayangkan apa yang terjadi.

“Itu yang kulamunkan lho, Bu!” dengan senyum manis dan pasti kulontarkan cerita rekaan, pembelaan perbuatanku yang kurang ajar tadi. He…he…

“Oh, begitu ya?” jawabnya menimpali dengan mimik cerah dan mata berbinar tidak sebaliknyam, seperti yang apa aku bayangkan.

“Ibu kirain kamu lagi…?” kilahnya lagi.

“Lagi ngapain bu…?cegahku mantap, seakan mencari jawaban  lainnya.

“Ada dech…” rahasia umum dalam hati aku melanjutkan perkataannya.

Dengan sebuah senyum manis dan tersipu malu, Bu Tiur, dosen yang bahenol memalingkan wajahnya, lalu buka bicara lagi, meneruskan masalah Indra, yang sempat terhenti karena ulahku tadi.

“Ah…” dalam hati aku berguman lega, mencoba melupakan kejadiaan barusan. Tapi wajah cantik Bu Tiur kembali menyelusup ke dalam angan. Membuat aku terbayang-bayang. Seandainya saja…seandainya saja…

“Huh…” indahnya memiliki mata yang mampu berkelana jauh, seringaiku lagi.

***


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori