Oleh: Radumta Sitepu | September 28, 2008

Apakah Tujuan Anda Kuliah?

Sungguh saat ini, kebanyakan mahasiswa kehilangan tujuan yang jelas di dalam menggeluti dunia kampus. Kata tanya “apa yang kamu dapatkan dengan kuliah ini?” hampir lenyap dari dalam asa dan tidak pernah lagi terngiang di telinga, dan jika ada itu hanya bibit kecil saja, yang tidak tumbuh sempurna.

Padahal seperti kita ketahui bersama, tujuan yang jelas dan terarah untuk apa kita kuliah adalah hal yang sangan vital. Tujuan hidup ibaratkan motivator ulung yang selalu memotivasi adrenalin habis-habisan, menuntun langkah kaki yang tersesat kembali ke jalan yang benar, membangkitkan tubuh kala jatuh tersungkur, menguatkan bathin ketika hinaan dan cercaan dari sekeliling datang mendera.

Setiap tujuann membangkitkan arwah yang terbenam dari tidur malas berkepanjangan. Setiap tujuan menghadirkan hidup yang lebih berarti yang akan membuat jiwa selalu bergairah dan tersenyum menyambut mentari yang mengahantarkan tubuh kita menjalani hari-hari penuh optimisme, sampai bintang-bintang pu “bersorak-riang’ menghantarkan mata menjelajahi dunia maya.

Dengan kata lain setiap tujuan yang anda miliki selalu berhubungan dengan apa yang membuat anda semangat, hal yang menggairahkan anda sebagai bagian penting dalam menggenapi setiap impian dan kerinduan yang ada di dalam hati anda.

Oleh: Radumta Sitepu | September 28, 2008

Belajarlah Menjadi Mahasiswa Ekstrovert

Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., seorang Guru Besar Madya dalam Ilmu Komunikasi yang juga pernah menjabat menjadi Dekan Fakultas Publistik Universitas Padjajaran selama tiga periode berturut-turut, dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek menuliskan bahwa:

Pelajar yang ekstrovert adalah pelajar yang aktif, dinamis, optimistis, sportif, toleran, berhati terbuka, mudah bergaul dan gampang mendapat teman. Ia melihat ke luar dari dirinya dan bertanya kepada dirinya sendiri “apa arti aku bagi masyarakat” sedangkan pelajar yang introvert adalah sebaliknya. Ia adalah orang yang serba tertutup, pasif, pesimistis, egoistis, kontemplatif, :minder” disebabkan “kuper”. Ia melihat ke dalam dirinya, dan bertanya kepada dirinya, “apa arti masyarakat bagi aku?”

Dalam hal ini bisa anda ketahui bahwa pelajar ekstrovert bersedia menyesuaikan dirinya kepada lingkungan dan sebaliknya pelajar introvert mengkehendaki bahwa lingkunganlah  yang harus menyesuaikan diri kepadanya.

Lebih lanjut lagi Prof. Onong menegaskan bahwa kedua jenis pelajar ini bisa saja lulus dan kelak menjadi sarjana. Tetapi, pelajar ekstrovert yang kaya dengan prakarsa dan gagasan, memiliki langkah pasti di dalam pengambilan keputusan dan mempunyai rasa tanggung jawab yang meyakinkan atas tindakannya, lebih gampang diterima oleh setiap lapisan masyarakat.

Sebaliknya, sarjana yang tadinya mahasiswa introvert akan menjadi sarjana yang kikuk, miskin akan prakarsa apalagi gagasan, ragu-ragu dalam mengambil keputusan, dan tidak berani bertanggungjawab atas tindakannya, lalu hal inilah yang  bisa menjurus kepada sikap yang scapegoatism, yaitu sikap “mengkambinghitamkan” orang lain.

Oleh: Radumta Sitepu | September 28, 2008

Bangkitkan Daya Nalar Anda

Istilah penalaran sebagai terjemahan dari bahasa Inggris adalah reasoning dan menurut kamus The Random House Dictionary berarti the act of process of a person who reasons (kegiatan atau proses menalar yang dilakukan oleh seseorang). Sedangkan reason berarti the mental powers concerned with forming conclusions, jugdements or inferences (kekuatan mental yang berkaitan dengan pembentukan kesimpulan dan penilaian).

Dua ahli pemikir kenamaan, Cicero pemikir kenamaan zaman Romawi dan Shakespeare tokoh pemikir dari Inggris, menghubungkan penalaran masing-masing dengan kebijaksaan dan intelektualitas. Cicero mengatakan sebagai berikut :

“Orang yang bijaksana diperintah oleh penalaran; yang kurang berpengetahuan oleh pengalaman; orang yang paling dungu oleh kebutuhan; dan hewan oleh alam”.

(Wise men are instructed by reasons; men of less understanding by experience; the most ingnorant by necessity; and beast by nature).

Cicero menunjukkan bahwa yang membedakan manusia yang bijaksana dan lainnya ialah penalaran. Ia diperintah oleh pikiran, bukan oleh emosi. Pikiran yang harus dominan, yang terus harus menekan perasaan (feeling). Segala kegiatan dituntun oleh pikiran, bukan dikendalikan oleh emosi.

Dalam hal ini Shakespeare, tokoh pemikiran dari Inggris, mengatakan sebagai berikut :

Reason is our intelectual eye, and like the bodily eye it needs light to see, anda to see clearly and far it needs the light of heaven. Strong reasons make strong actions

Terjemahannya secara bebas adalah kira-kira sebagai berikut :

“Penalaran adalah mata intelektual kita, dan seperti halnya dengan mata jasmaniah, untuk dapat melihat, mata intelektual tersebut memerlukan cahaya, lalu untuk dapat melihat jelas dan jauh, ia memerlukan cahaya Allah. Penalaran yang kuat akan menimbulkan kegiatan yang hebat.

Dari pendapat kedua tokoh populer itu dapat diambil kesimpulan bahwa daya penalaran merupakan unsur yang membuat seseorang menjadi intelektual yang  bijaksana. Inilah ciri-ciri dan sifat-sifat yang diharapkan terdapat pada manusia pelajar Indonesia.

Kini timbul pertanyaan : Bagaimana berlangsungnya penalaran itu?

Cleanth dan Robert Penn Warren dalam bukunya Modern Rhetoric, mendefenisikan penalaran atau reasoning sebagai proses by which the mind moves from certain data convidene to a conclusion. Jadi, pada hakikatnya penalaran itu berlasung dengan “proses jalannya pikiran dari suatu data atau fakta menjadi suatu konklusi”.

Oleh: Radumta Sitepu | September 26, 2008

Tangisan Penghuni Negeri Ini

Lirik dan syair itu hanya cerita usang negeri ini
habis sudah dimakan rayap waktu.

Kolam susu itu kini telah berganti lautan darah
darah yang mengalir dari keringat penghuni negeri ini
dari genangan rintihan, kesakitan, kedigdayaan
luapan sungai kepahitan dan kegetiran
yang tak terbendung lagi
dari air mata anak negeri ini.

Akan sengsara…
Akan nista…
Akan munafiknya…

Syair dan lirik kehidupan ini

Medan, 31 Juli 2008

Rumah Kelam

Oleh: Radumta Sitepu | September 26, 2008

Jangkiti Diri Anda dengan Virus “n Ach”

Seorang mahasiswa bernama A bercerita kepada temannya si B, sesama mahasiswa, bahwa ketika belajar dalam menghadapi ujian, ia merasa sukar memusatkan pemiikirannya karena selalu teringat kepada pacarnya. Lain halnya lagi dengan si B, dia berkata  bahwa ia berhasil memperoleh nilai yang cukup tinggi dari ujiannya berkat usahanya yang keras disebabkan oleh cita-citanya . Karena khawatir tidak berhasil mencapai cita-citanya itu, maka ia belajar sampai jauh malam.

Efisiensi berpikir dari dua orang di atas itu akan berpengaruh besar pada tindakannya, kegiatannya dan perilakunya, akan menjadi pendorong yang berkembang luas bagi kemajuan masyarakat. Hal inilah oleh David C. Maclelland, seorang ahli psikologi di Harvard University, disebut sebagai virus mental atau “n Ach”, singkatan dari need for achievement, artinya kebutuhan untuk memperoleh prestasi gemilang.

Dari contoh di atas McClelland menunjukkan bahwa B memiliki mental “n Ach” lebih tinggi dibandingkan mental si A, dengan kata lain si B dijangkiti lebih banyak virus mental.

Need for Achievement ini terdapat pada diri setiap orang untuk mengejar sesuatu yang lebih baik, lebih cepat, lebih gemilang dan lebih efisien daripada yang telah dilakukan sebelumnya apabila didasari oleh motif yang kuat dan jelas.

Dengan demikian yang dinamakan virus mental tadi pada hakikatnya adalah motif yang terdapat pada diri seseorang yang mampu mendorong dirinya untuk berusaha lebih giat guna memperoleh sukses yang lebih besar. Pelajar yang IQ-nya tinggi belum tentu sukses dalam pelajarannya, jika ia tidak memiliki motif. Sebaliknya pelajar yang IQ-nya sedang-sedang saja besar kemungkinannya akan berhasil dalam pelajarannya bilamana dia mempunyai motif yang kuat dan jelas.

***

Sumber : “Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek”, Penulis Prof. Drs. Onong

Uchjana Effendy, M.A., Penerbit :Remaja Rosdakarya Bandung, 2005.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori